aku terjebak diantara khayalan dan kenyataan yang saling tumpang tindih
hampir tidak mungkin lagi aku membedakannya
rasanya seperti gula yang belum diaduk di dalam secangkir teh. gula itu ada, di dasar cangkir, tapi tidak mungkin lagi mengambilnya dalam bentuk butiran-butiran kering. yang ada hanya gula yang hampir mencair dan rasa teh yang masih ababil, manis tidak tawar pun tidak.
seringkali untuk mengalihkan pikiran dari kenyataan yang tidak menyenangkan aku berkhayal sesuka hati. aku pergi ke "tempat-bahagia-ku"
dan selalu ada kamu disana. untuk sesaat aku merasakan kesenangan yang semu, hanya sesaat untuk selanjutnya berganti rupa menjadi kosong.
kosong...
aku rindu...
lebih mudah untuk mempertahankan rasa kosong dalam kesenangan semu daripada mengakui dan menerima kenyataan bahwa aku memang rindu. lebih mudah untuk menyangkalnya daripada menghadapi rasa sedih yang bergejolak karena ada rindu yang tidak tersalurkan.
lalu malam ini kamu datang
memunculkan kembali emosi dan perasaan yang sudah kupendam dan kusangkal, memenuhi ruang kosong dengan harapan-harapan, mimpi yang menjadi nyata.
namun hanya sekejap. semua terjadi hanya dalam satu kedipan mata dan kemudian menghilang.
membuatku bertanya kembali, apakah aku bermimpi di dalam mimpi? benarkah kamu memang datang?
dalam sekejap ruang itu menjadi kosong kembali.
dan aku lagi-lagi harus mengakui sungguh, perasaan kosong itu lebih menenangkan daripada rasa rindu yang justru semakin menjadi-jadi. di dalam kosong aku tidak merasa, aku hanya menjadi.. hampa..
atau mungkin aku yang terlalu lamban untuk berjalan di alam nyata?
tidak.. tidak.. ini bukan lamban..
aku hanya ingin menikmati setiap detik ketika aku bisa melihatmu dengan kedua mataku dan menyentuhmu langsung dengan kedua tanganku
aku rindu kamu
bahkan ketika kita sudah bertemu pun aku tetap rindu kamu
mungkin.. ini bukan kosong yang sekedar kosong
ini kosong yang disiapkan untuk menunggu kamu