Bukan kotak kecil itu yang membuatku menangis semalaman. Bukan..
Perasaan bersalah karena tidak bisa menjaga apa yang sudah dipercayakan padaku, perasaan malu karena gagal di tengah usaha pembuktianku, dan potongan hidup yang sudah kutorehkan di dalamnya. Itu.. Itu yang membuatku menangis semalaman..
Ingatanku melayang pada percakapan di sore hari nya. Percakapan yang membuahkan kesadaran sederhana, bahwa aku terobsesi untuk membuktikan diri. Dan sebagai mahasiswa psikologi aku tahu betul bahwa itu adalah manifestasi dari perasaan insecure.
Setelah kehilangan itu aku tidak bisa berhenti bertanya kesalahan apa yang sudah aku lakukan?
Aku mencari, mencari, dan mencari dalam hati.. Satu-satunya jawaban yang bisa kutemukan adalah Tuhan ingin aku bebas dari kesombongan.
There's no such thing like 'zona nyaman'. Hidup itu roda, roda itu berputar. Kodrat. Takdir. Tidak bisa disangkal.
Seorang sahabat berkata "sabar ya jenQ.. Mau lulus banyak cobaannya"
Aku tersandung di tengah usaha membuktikan diri. Mungkin Tuhan hanya ingin aku mensyukuri hari dan bukannya malah menantang hari. Ya, aku sudah menantang hari dan diriku sendiri dengan kesombongan.
Bersyukur..
Kejadian ini mengingatkanku untuk lebih banyak bersyukur.
Tapi sebelum bisa bersyukur, aku harus bisa memaafkan diriku sendiri, padahal itu adalah bagian terberat dan tersulit dari proses ikhlas.
Dan hingga saat ini aku masih belum mampu memaafkan diriku..