ada satu buku yang menginspirasi hidup saya belakangan ini. buku sederhana, cerita sederhana tapi sarat makna luar biasa. buku yang tidak henti-hentinya saya promosikan di facebook maupun twitter saya hehe.. judulnya
Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya.
when i first read the title, i was like... hah? apa ini? dongeng anak-anak? tapi setelah saya lihat-lihat lagi buku ini ditulis oleh seorang Biksu Budha bernama Ajahn Brahm, dan semakin saya membaca isinya semakin saya berterimakasih karena telah dipertemukan dengan buku ini. buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya berisi 108 kisah pendek yang sering digunakan oleh Ajahn Brahm ketika beliau berceramah. cerita-cerita yang disampaikan... sederhana, penuh humor, dan terutama dekat dengan kehidupan sehari-hari yang sayangnya sering kita abaikan. buku ini mengajak saya untuk membuka pintu hati dan mengenal diri. duh! saya sampe bingung harus ngomong apa lagi saking LUAR BIASA-nya buku ini. go Ajahn Brahm! :D
semua cerita dalam Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya adalah favorit saya! tapi kali ini saya ingin membagi dua kisah yang mampu membangkitkan semangat saya kembali. mudah-mudahan juga bisa membangkitkan semangat semua orang yang membacanya :)
-------------------------------------------------------------------------------
Biarlah Rasa Sakit Berlalukisah ini bercerita tentang 3 murid yang sedang mengalami kesakitan luar biasa.
murid pertama, dalam rasa sakit yang hebat, mencoba untuk membiarkan rasa sakit berlalu .
"berlalulah," bujuk mereka, dengan lembut, dan menanti.
"berlalulah!" ulang mereka ketika tidak ada perubahan. "pergilah sana!" "ayo, pergilah!" "aku bilang, pergilah!" "PERGILAH!"
kita mungkin merasa hal ini lucu, tetapi itulah yang kita lakukan selama ini. kita membiarkan pergi hal yang salah. kita seharusnya membiarkan pergi orang yang berkata "berlalulah". kita semestinya membiarkan berlalu "si pengatur" yang berada dalam diri kita, dan kita semua tahu siapa itu. membiarkan berlalu berarti "tak ada si pengatur".
murid kedua, dalam rasa sakit yang mengerikan, ingat akan petuah diatas dan membiarkan berlalu pengendalinya. lalu mereka duduk bersama rasa sakit, mengira mereka telah membiarkannya berlalu. setelah sepuluh menit rasa sakit itu masih sama saja, jadi mereka mengeluhkan metode ini tidak jalan. saya menjelaskan kepada mereka bahwa metode membiarkan berlalu ini bukan metode untuk membebaskan diri dari rasa sakit, melainkan untuk bebas dari rasa sakit. murid kedua telah mencoba kesepakatan dengan rasa sakit, "aku akan membiarkan kamu selama sepuluh menit, dan setelah itu, hei kamu, rasa sakit, akan pergi. oke?
itu sih bukannya membiarkan rasa sakit berlalu, tetapi mencoba untuk membebaskan diri dari rasa sakit.
murid ketiga, dalam rasa sakit yang menakutkan, berkata kepada rasa sakit itu kata-kata seperti ini
"hei sakit, pintu hatiku selalu terbuka untukmu, apapun yang kamu lakukan. masuklah"
murid ketiga berusaha dengan sepenuh hati mengizinkan rasa sakit terus berlanjut selama yang diinginkannya, bahkan selama seumur hidup, bahkan membolehkan mereka bertambah parah. mereka memberikan kebebasan bagi rasa sakit. mereka berhenti mengendalikannya. itulah yang disebut membiarkan berlalu. apakah rasa sakit itu masih ada atau tidak, sama saja jadinya. hanya dengan begitulah rasa sakit lenyap.
------------------------------------------------------------------------------
Pengorbanan Gagah Berani
saat saya masih seorang guru sekolah, perhatian saya tertarik pada seorang siswa yang mendapat peringkat terbawah pada ujian akhir tahun dalam kelas saya yang terdiri dari 30 siswa. saya melihat dia tertekan karena nilainya yang tidak bagus, lalu saya menghampiri dan mengajaknya berbicara.
saya berkata padanya "harus ada orang yang berada di peringkat 30 dari 30 siswa di kelas ini. tahun ini orang itu adalah kamu, kamu yang telah melakukan pengorbanan gagah berani supaya tak ada seorangpun temanmu menderita malu karena mendapat peringkat terbawah di kelas ini. kamu sungguh baik, begitu penuh belas kasih. kamu pantas mendapatkan medali"
kita berdua tahu bahwa apa yang saya katakan itu konyol, tetapi dia menyeringai lebar. dia tak lagi menganggap peringkat terbawahnya sebagai sebuah kiamat.
dia mendapat peringkat yang jauh lebih baik pada tahun berikutnya, ketika tiba giliran orang lain melakukan pengorbanan gagah berani.
-------------------------------------------------------------------------------
kedua cerita diatas diambil dari buku berjudul Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya karya Ajahn Brahm